Mengenal Lebih Dekat Sosok Sujarmin

Merantau Sebatang Kara Jadi Buruh Tani, Buruh Balok Hingga Calon Wakil Bupati

Selasa, 27 Maret 2018 - 15:46:40 | dibaca: 1753 kali


Sujarmin, mantan buruh tani, pekerja balok kayu hingga pekebun itu, kini wajahnya menghiasi semua sudut Merangin sebagai Calon Wakil Bupati, mendampingi Ir. H. Ahmad Fauzi. MT
Sujarmin, mantan buruh tani, pekerja balok kayu hingga pekebun itu, kini wajahnya menghiasi semua sudut Merangin sebagai Calon Wakil Bupati, mendampingi Ir. H. Ahmad Fauzi. MT / ist-MCFajar

TIDAK banyak yang tahu, lika-liku perjalanan hidup salah satu tokoh muda Merangin asal Jawa, yang wajahnya kini menghiasi Baliho, Spanduk maupun Poster disetiap sudut pelosok Merangin _Sujarmin_  ternyata dipenuhi dengan seluk-beluk perjuangan yang tidak mudah.

 Terlahir dalam lingkungan keluarga yang jauh dari kata berada, berbagai kenyataan tentang pahit dan susahnya perjuangan hidup yang penuh penderitaan, rupanya telah pula dijajal oleh sosok ramah dan ceria, yang kerap disapa Pakde Jarmin ini. 

 Dari sepenggal kisah hidup yang ia tuturkan, benar-benar membuktikan bahwa nasib seorang hamba merupakan salah satu rahasia besar Sang Khalik, tak satupun penghuni bumi ini yang bisa menebaknya.

 Kesuksesan yang kini ia nikmati bersama keluarganya itu, ternyata tidak serta merta diraihnya dengan mudah. Getirnya asam garam perjuangan dalam perjalanan panjang menapaki hidup, telah berhasil ditaklukkannya untuk sampai pada taraf kehidupannya yang saat ini sudah lebih dari cukup.

Baca juga:  Begini Kata Sujarmin Soal Bully-an Karena tak Bicara Saat Debat

Saat berbincang dengan meranginekspres.com, Pakde Jarmin yang biasanya selalu tampil santai dan ceria ini, sesekali terdiam sembari menatap hampa. Dari tatapan dalam bola matanya, terlihat ia seakan mengenang setiap jengkal perjalanan hidup yang ia jalani puluhan tahun silam.

 "Walah kalau mengingat perjalanan hidup saya dulu, saya sering jadi sedih. Benar-benar sengsara hidup saya dulu," ujarnya memulai penuturan kisah hidupnya.

 Pria kelahiran 16 Oktober 1975 ini mengisahkan, perjalanan panjangnya hingga sampai ke Bumi Tali Undang Tambang Teliti ini, bermula pada awal perantauan dari tanah kelahirannya, Tambakharjo, Pati-Jawa Tengah. 

 Kala itu, satu hari ditahun 1987, Sujarmin remaja yang saat itu baru berusia kurang lebih 12 tahun. Dengan bermodal tekad untuk mengubah nasib, ia memutuskan untuk merantau keluar pulau Jawa.

 Dengan bekal uang yang jauh dari kata cukup, sendirian Sujarmin remaja menyeberang ke pulau Sumatera. Sebatang kara ia berkelana, tidak ada tujuan pasti yang akan ia tuju saat itu, yang ia tahu hanyalah bagaimana ia bisa bertahan hidup seorang diri diperantauan.

 Dalam perjalanan itu, Pakde Jarmin muda sempat beberapa tahun 'terdampar' di Kota Lubuk Linggau, Sumatera selatan. Disini ia menjalani hari-harinya dengan melakoni pekerjaan yang tidak menentu, apapun dikerjakannya untuk dapat bertahan hidup.

 "Pada tahun 1987 itu saya ke sumatera ini, waktu itu di Lubuk Linggau. Namanya orang hidup sebatang kara, kerja apapun dijalanin, yang penting bisa tetap makan," kenangnya.

 Sepintas, bola matanya bahkan terlihat berkaca-kaca ketika ia begitu 'khusyuk' mengisahkan pengalaman hidup yang ia jalani.

 Lebih kurang lima tahun malang-melintang dikota Lubuk Linggau, yakni pada tahun 1992 garis takdir menuntun langkahnya untuk melanjutkan ‘pengembaraan’ ke pinggiran kota Jambi. Disini ia memang belum bisa bernafas lega mengenang nasib, namun setidaknya ia mengaku bersyukur karena berhasil mendapatkan ‘pekerjaan’, yakni menjadi tukang potong karet di kebun warga. Pekerjaan ini pun ia lakoni dengan ikhlas selama beberapa tahun.

 Saat bekerja sebagai buruh Potong Karet, Sujarmin yang sudah mulai beranjak dewasa berkenalan dengan seseorang, yang mengajaknya untuk berganti profesi, yakni bekerja sebagai buruh dengan seorang toke balok kayu (saat itu bisnis balok kayu masih cukup banyak dilakoni), pekerjaan ini ia lakoni hingga sekitar tahun 1996.

 Dalam periode itu, dia berkenalan dan menikah dengan seorang gadis desa Karang Anyar kecamatan Pamenang Barat, Khumini, yang juga merupakan warga Merangin keturunan tanah Jawa.

 ‘’Tahun 1992 saya ke Jambi, sempat jadi tukang Motong Karet, bebalok (kerja balok_red) kayu sampai tahun  1996,” ujar pria yang merupakan satu dari tiga saudara itu.

 Disinilah pahit-getirnya perjuangan dan usaha panjang yang ia jalani mulai menampakkan hasil. Bermodalkan tabungan yang ia kumpulkan selama manjalani pekerjaan sebagai Buruh Tani dan Buruh Balok, Sujarmin berhasil membeli sepetak tanah yang ia tanami dengan tanaman karet.

 Disamping mengurus kebun yang kala itu masih secukupnya, Sujarmin juga mulai membuka uasaha jual beli getah karet dalam skala kecil-kecilan.

 'Usaha tak akan pernah mengkhianati hasil' ungkapan ini tidak berlebihan jika melihat perkembangan dan perubahan kehidupan Sujarmin. Keuletan, ketekunan dan kerja keras yang ia jalani selama puluhan tahun membuahkan hasil yang sepadan pula, usaha jual beli getah yang ia jalani berkembang pesat.

 Singkat cerita, sejak itu ia terus berupaya membesarkan usaha yang telah merubah nasibnya itu. Sembari menjalankan bisnis jual beli getah, ia juga perlahan menambah sedikit demi sedikit kebun karet dan kebun sawit, yang ia dapatkan dengan cara membeli dari orang lain.

 Karena sadar bahwa sektor pertanian ini telah mengubah nasibnya, ia pun tidak tanggung-tanggung menekuni dunia pertanian ini.

 Ia terus menekuni dan menjalani profesinya sebagai petani, ratusan hektar kebun sawit maupun karet kini ia miliki, sehingga tidak heran jika saat ini dia tergolong cukup menguasai seluk beluk pertanian, yang kini menjadi urat nadi perekonomian keluarganya, bahkan juga menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakat di Merangin hingga Indonesia.

 Sejak serius menekuni profesinya sebagai petani sawit dan karet, berbagai pengalaman pun ia jumpai. Ia bahkan kerap meneruskan ‘pengembaraannya’ demi pengembangan komoditi Sawit dan Karet, seperti mencari bibit yang bagus, berbagi pengalaman dan ilmu dengan petani lainnya, baik di Merangin maupun di luar kabupaten Merangin hingga luar Provinsi Jambi.

 Hingga kini, ia masih tetap berprofesi sebagai petani. Meski disamping itu ia juga menjalankan bisnis Delivery Order (DO) buah sawit, dalam bisnis ini dia menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan Sawit ternama, diantaranya seperti Perusahaan Sawit milik Tommy Soeharto yang salah satunya beroperasi di Merangin.

 Hidup serba berkecukupan yang ia rasakan saat ini, tidak serta merta membuat ia lupa siapa dia sebenarnya, Pakde Jarmin dilingkungan kerabat dan handai taulannya, dikenal sebagai sosok yang ramah, santun dan juga pemurah.

 Dia selalu berbaur dengan lingkungan sekitarnya, tanpa membedakan dengan siapa dia bergaul. Ini menurutnya karena ia sadar betul siapa ia sebenarnya dan dari mana ia memulai hidupnya.

 Tidak hanya itu, ia juga tidak gampang melupakan Khaliknya, ia dan keluarganya juga dikenal keluarga yang taat beribadah. Bahkan dalam satu kesempatan, penulis sempat dibuat terkesima dengan lantunan potongan ayat suci Al-Qur'an yang ia bacakan.

 "Apapun jalan hidup yang harus kita tempuh, kita harus percaya bahwa itu jalan Allah, kalau kita melupakanNya, maka jangan banyak berharap Dia akan mempermudah jalan kita," ujarnya berpetuah.

 Sempurnanya, sifat pemurah yang ia miliki itu, ternyata juga ada pada istri tercinta dan dua putranya. Selalu berbagi dengan sesama, seakan telah menjadi kebiasaan dan rutinitas keluarga yang tinggal di Desa Karang Anyar kecamatan Pamenang Barat ini.

 Sehingga tidak heran jika banyak sekali tetangga dan kerabat yang menyukai ia dan keluarganya.

 Kini, pria yang selalu tampil sederhana itu dipercaya mendampingi salah satu kandidat kuat calon bupati Merangin, Ir. H. Ahmad Fauzi MT. meski pada awalnya sempat kaget, Sujarmin kini terpilih sebagai figur yang dipercaya menjadi Calon Wakil Bupati mendampingi Ahmad Fauzi, pada Pilkada Merangin yang dijadwalkan akan digelar pada 27 Juni 2018 mendatang.

 ‘’Bagi banyak orang, setelah saya mencalonkan diri mendampingi Bang Ojie (Ahmad Fauzi), saya sering disebut sebagai orang penting. Oalah, padahal bagi saya saya tetap orang biasa, sampai sekarang saya tetaplah petani yang pernah hidup menderita, yang juga sangat mengerti bagaimana susah senangnya menjadi petani,” ujarnya.

 ‘’Alhamdulillah takdir Allah-lah yang membawa saya sampai kesini (pencalonan_red), jika memang kami dipercaya mengemban amanah ini, Insha Allah, saya mengerti sekali susah senangnya petani, lha wong saya sampai sekarang tetap petani kok,” tutup Pakde Jarmin.*

Baca juga: Bang Ojie ke Tabir Selatan, Pakde Jarmin ke Pamenang

Penulis: zhf
Editor: zhf