Metro Bangko

Terancam Aktifitas Peti

Lubuk Larangan Makin Berkurang

Topan Merangin | Selasa, 28 Mei 2013 - 16:28:24 WIB | dibaca: 221 pembaca

BANGKO- Lubuk larangan merupakan tradisi turun temurun masyarakat yang menyimpan kearifan lokal, hingga saat ini sangat membantu pelestarian ikan asli Merangin. Namun, kebaradaannya kian terancam, akibat maraknya aktifitas penambangan emas tanpa izin (Peti) yang menjadi ancaman serius kerusakan sumberdaya alam, khususnya sungai.  
    Sekretaris Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Merangin Suparmin, mengatakan pelestarian dan perkembangbiakan ikan asli Merangin, sangat bergantung pada habitat aslinya.
    ‘’Sedikit saja habitatnya terganggu, sangat berpengaruh dengan perkembangannya. Keutuhan ekosistem merupakan solusi terbaik untuk mempertahankan keberadaan ikan Semah, ikan Batu dan ikan sungai lainnya di perairan Merangin,” ujar Suparmin.
    Diungkapkannya, keraradaan lubuk larangan jumlahnya kian berkurang tiap tahunnya. Hal ini disebabkan adanya perubahan ekosistem aliran sungai, terutama sejak maraknya aktifitas Peti atau dompeng, yang dinilainya menjadi ancaman serius habitat ikan sungai di Kabupaten Merangin.
    ‘’Habitat ikan makin terancam, apa lagi dengan maraknya aktifitas dompeng dengan mengunakan cairan kimia. Jika hal ini tetap berlangsung, kedepannya masyarakat Merangin sulit mendapatkan ikan sungai di wilayah Merangin,” ungkapnya.
    Disnakan mencatat, hingga saat ini jumlah lubuk  larangan di Kabupaten Merangin ada sekitar 80 lokasi. Dan jumlahnya kian menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Tradisi lubuk larangan hanya masih bertahan dibeberapa kecamatan seperti kecamatan Tabir Ulu, Sungai Manau, Muara Siau dan beberapa kecamatan lainnya.
    ‘’Adat istiadat dan paraturan desa masih dijunjung tinggi masyarakat untuk melestarikan ikan-ikan asli Merangin. Hanya saja wilayah tersebut juga sudah dimasuki aktifitas Peti dan bisa saja kedepannya tidak lagi ditemukannya lubuk larangan di kecamatan yang sangat berpotensi untuk pembudidayaan ikan sungai tersebut,” katanya.
Dijelaskannya, ikan semah, ikan batu dan ikan sungai lainnya, sangat rentan dengan perubahan lingkungan dan hanya cepat berkembang dihabitat aslinya. Bahkan jika dibudidayakan dikolam air tawar, pertumbuhannya juga tidak sepesat di habitat aslinya. Dan sudah pernah dilakukan percobaan dan hasilnya tidak memuaskan, bahkan dagingnya tidak seenak ikan yang hidup dihabitat aslinya.
    Bahkan terangnya, pakan buatan yang digunakan untuk pembudidayaan ikan semah, ikan batu dan ikan sungai lainnya,  sangat berpengaruh dengan perkembangannya, karena biasanya habitat aslinya dialiran sungai deras, bebatuan dan pakannya lumut atau buah-buhan yang jatuh disekitar sungai.
    ‘’Meski diupayakan pembudidayaannya di kolam air tawar, perkembangannya cukup lamban dibandingkan dengan di habitat aslinya. Selain dibutuhkan perawatan yang baik dan dagingnya tidak seenak di habitat aslinya,” tambahnya lagi.
Untut saat ini, lanjut Suparmin, pembudidayaan ikan sungai masih dilakukan disungai dengan membuat lubuk larangan. Tentu saja ikannya selain dilarang ditangkap, hingga waktu yang ditentukan, kelestarian alam harus tetap terjaga.
    ‘’Artinya, kelestarian sungai harus tetap terjaga. Tentu saja selama air sungai tidak terkomintasi cairan kimia,” tuturnya.
    Dikatakannya, Disnakan kedepannya akan berupaya melakukan bimbingan dan membantu perkembangan lubuk larangan.
‘’Kita berencana memberikan pakan untuk merangsang perkembang biakan ikan dilubuk larangan. Ini sifatnya sekali saja atau sekedar merangsang agar cepat berkembang. Kedepannya akan kita upayakan, untuk saat ini masih terkendala dana,” katanya.
    Meski, habitat ikan sungai kian terancam dengan aktifitas Peti, hingga saat ini Disnakan belum melakukan formula pelestarian ikan-ikan asli Merangin tersebut. Namun, kedepannya Disnakan berupaya untuk mensosialisasikan agar masyarakat semakin memperluas dan memperbayak lubuk larangan.
    ‘’Kalau budidaya kolam belum ada, tapi akan kita upayakan. Untuk pembibitan ikan semah atau ikan sungai, di Jambi hanya ada di Kerinci dan itu pun milik Pemerintah Provinsi. Namun yang menjadi kendala bagi kita adalah pendanaan yang sangat minim,” tandasnya.
    Suparmin berharap, masyarakat bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan. Tidak hanya untuk kelestarian habitat ikan, tapi demi keselamatan manusia.
 ‘’Marilah kita lestarikan ikan asli Merangin dengan cara menjaga keseimbangan lingkungan,” pungkasnya.(rks)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)